“Arti Sebuah Kemerdekaan bagi Wong Cilik”

Ulasan Jurnalis

“Kemerdekaan merupakan barang mahal dan sangat dikramatkan Oleh setiap manusia”

Tak terkecuali orang berada , lebih – lebih orang tiada atau papa, yang juga disebut wong cilik. Tak perduli konglomerat, apalagi orang melarat. Sangkin mahal dan berharganya, orang tak jarang menyerahkan nyawanya demi sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan, merupakan hak azasi setiap manusia. Maka setiap orang, apalagi bangsa selalu semangat memperjuangkan kebebasannya, kemerdekaannya.

Seperti hal sebuah bangsa, sangat merindukan sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan tidak bisa direbut hanya dengan berdiam diri. Maka segala upaya dilakukan, baik secara komunikasi, diplomasi, bahkan secara fisik sekalipun. Seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa kita untuk merebut kemerdekaan.

Momentum kemerdekaan bagi bangsa kita cukuplah berarti. Ribuan nyawa bahkan jutaan nyawa melayang demi sebuah barang yang namanya kemerdekaan.
Sampai – sampai proklamator Negeri ini Ir.Soekarno, menancapkan prasasti, monumen kebangsaan persembahan untuk kemerdekaan.

Sebuah Masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid yang bernama Istiqlal, yang artinya Merdeka atau Kemerdekaan. Masjid yang merupakan, lambang kedamaian, lambang persatuan. Lambang kebanggaan bangsa Indonesia.

Lantas, pertanyaannya, apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi wong cilik.
Mohon.maaf dalam hal ini kami harus berkata yang sesungguhnya dan sebenarnya. Sehingga tidak ada dusta diantara kita. Bagi mereka, kemerdekaan saat ini tak bermakna apa – apa. Tak berarti apa – apa, hanya sebuah mimpi dan mimpi. Apalagi dimasa pandemik saat ini, mereka merasa tak punya kemerdekaan, tak punya kebebasan. Kemerdekaan bagi mereka hanyalah sebuah semboyan, hanyalah penghias bibir. Negara secara historis, secara administrasi, secara pengakuan bangsa memang merdeka. Tapi secara naluri kebangsaan masih terjajah dari ekonomi, dari kebebasan berpendapat. Dari rasa takut, dari intimidasi, dari keterpaksaan dan sandiwara ini itu.

Merdeka itu berarti bebas, lepas, lega dari semua kegelisahan, keterpaksaan. Bebas berinovasi, bebas berimajinasi, bebas berkumpul berserikat. Berbabas bersepakat dalam koridor bingkai pancasila, bingkai Kebhinnekaan. Tanpa ada saling usik, tanpa ada saling usil. Tanpa ada saling hina, caci, maki sesama anak bangsa. Tanpa ada saling hina terhadap agama, saling menginterpensi agama. Mestinya ada saling menghargai saling menghormati. Dan Negarapun hadir sebagai penengah yang adil, sebagai penghakim yang adil, tanpa pilih kasih. Tanpa ada tendensi – tendensi lain.

Kebebasan – kebebasan ini mestinya Negara hadir cepat sebagai penengah. Tanpa memandang siapa, memilah memilih, sehingga masyarakat merasakan kehadiran Negara sangat dirasakan manfaatnya khususnya bagi wong cilik.
Dan masih banyak lagi kebebasan – kebebasan yang terkungkung yang hanya dirasakan wong cilik khususnya.

Masih sangat memprihatinkan dan sangat ironi. Kenapa tidak, terkhusus dimasa pandemic ini. Terkhusus sangat dirasakan wong cilik, terhimpit ekonomi, tak merdeka dari kebebasan berusaha yang serba dibatasi. Padahal wong cilik ketika mendambakan kemerdekaan tak minta banyak. Hanya minta kebebasan berusaha, hidup tenang, merdeka dari intimidasi, dari keterpaksaan. Merdeka dari kegaduhan politik, merdeka dari kegaduhan kebijakan. Terbebas dari intimidasi, arogansi oknum aparat yang terkesan terkadang tak bersahabat dengan rakyat.

Dan wong cilik tak pernah bertanya apa yang dikasih Negara padanya, ketika dia diberi kebebasan berusaha. Walau Negara semestinya hadir mengayomi hajad kehidupan orang banyak sesuai amanat UUD.45. Hasil bumi dan kekayaan Negara dikuasai oleh Negara, dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Pakir miskin dan anak terlantar dibiayai dan di tanggung oleh Negara.

Terkhusus di Ulang tahun Negeri ini yang sudah mencapai 76 tahun, bukan usia yang muda lagi. Ibarat manusia sudah mencapai Lansia, bukan anak – anak lagi. Tentunya kedewasaan berNegara anak bangsa harus hadir, terkhusus pejabat Negeri ini.Tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi harus memikirkan anak bangsa yang lain, memikirkan keturunan anak bangsa yang lain. Tak pernah berpikir yang merugikan Negara, tak pernah memikirkan korupsi yang hanya merugikan Negara sekaligus anak bangsa. Tak memikirkan kehidupan anak cucu, tujuh turunan ini itu yang hanya merugikan Negara. Tapi lebih dari itu berpikir ke depan lebih maju demi kepentingan bangsa dan Negara.
Cinta tanah air tak hanya dibuktikan dengan sehelai bendera yang berkibar di depan rumah, atau di depan kantor, tapi lebih dari itu. Bukan hanya dibuktikan dengan banyaknya hafalan lagu Nasional, hafalnya lagu Indonesia raya, hafalnya Pancasila, tapi lebih dari itu.

Cinta tanah air dalam bingkai kemerdekaan, haruslah diwejawantahkan dalam hidup sehari – hari. Bagaimana menghargai perbedaan, bagaimana menyadari perbedaan, bagaimana saling menghargai sesama anak bangsa. Menghargai dari segi warna kulit, menghargai agama, keturunan, tanpa adanya istilah kadrun, ini dan itu.

Bagaimana mencintai kemerdekaan dalam koridor cinta tanah air, cinta produk bangsa, jangan bilang cinta tanah air, tapi seluruh pakaian yang badan buatan luar negeri. Cinta produk luar, makanan luar, bangsa luar, mengidolakan artis luar, mengidolakan minuman luar. Merasa keren, modern ketika makan produk serba luar negeri, memakai produk luar negeri. Mestinya cinta perjuangan para pejuang,pendiri Negara, cinta asset Negara tanpa berpikir mengobral sana sini. Tanpa minta di goda oleh bangsa lain, atau Negara lain. Cinta anak bangsa bagaimana, apapun modelnya, tanpa saling menghina, tanpa saling mencibir. Selalu mengedepankan kepentingan bangsa daripada pribadi, golongan, keluarga, keturunan, suku, organisasi, partai dan sebagainya.

Semoga di Ulang tahun RI yang ke 76 ini, anak bangsa, pejabat bangsa, penguasa, pengusaha bangsa semakin dewasa. Semakin dewasa dalam berpikir, semakin dewasa dalam bertindak, semakin dewasa dalam memutuskan. Semakin dewasa dalam mengayomi anak bangsa, semakin dewasa kepada anak bangsa, semakin sayang pada anak bangsa, semakin sayang pada Negara. Semakin sadar akan rasa kebangsaan, rasa cinta tanah air.Semoga. (Rahmad Lubis)