Dwi Rio Sambodo: Anies Tidak Berkomitmen Menangani Banjir Jakarta

PARAMETER TODAYS.com, Jakarta – Pembangunan penyaringan sampah di Sungai Ciliwung tidak akan mampu mengatasi banjir Jakarta. Demikian ditekankan Dwi Rio Sambodo, Sekretaris fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Kamis (29/9/2022).

“Hanya dengan membangun penyaringan sampah di sungai dan berharap bisa mengatasi banjir Jakarta tentu jauh api dari panggang. Apalagi dengan pembiayaan yang menyedot anggaran relatif besar Rp 197,21 miliar. Apakah ini bukan pemborosan anggaran?” tukas Rio.

Dwi Rio menilai komitmen penanganan banjir Pemprov DKI Jakarta lemah seraya mengingatkan janji Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal normalisasi Kali Ciliwung.

Sebelumnya Anies Baswedan meninjau proyek saringan sampah Sungai Ciliwung segmen TB Simatupang pada Senin (16/9/2022). Saringan sampah ini berada di perbatasan Pasar Rebo (Jakarta Timur) dengan Jagakarsa (Jakarta Selatan).

Anies sempat bercerita tentang masa-masa awal kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dia saat itu menyoroti timbunan sampah di sekitar Sungai Ciliwung ketika volume air meningkat.

Anies mengatakan sampah-sampah itu ternyata banyak berasal dari luar Jakarta. Sampah-sampah itu, katanya, masuk ke Jakarta melalui aliran Sungai Ciliwung.

“Nah, pertanyaan saya kemudian, kenapa tidak disaring sebelum masuk ke dalam kota sehingga seluruh kawasan aliran sungai, kanan kiri sepanjang Ciliwung di dalam Kota Jakarta terbebas dari limpahan sampah ini,” ujarnya.

Anies mengatakan Pemprov DKI kemudian membahas konsep saringan sampah. Akhirnya, kata Anies, saringan sampah itu akan menyaring sampah-sampah sebelum akhirnya aliran air itu bergerak menuju kawasan permukiman padat.

Dia mengatakan proyek saringan sampah hendak dibangun pada 2020. Dia menyebut Pemprov anggaran pembangunan saringan sampah senilai Rp 195 miliar juga sudah disiapkan. Tapi, kata Anies, proyek itu tertunda karena anggaran tersebut dialihkan untuk penanganan pandemi COVID-19.

“Kemudian kita tahu di tahun 2020 terjadi pandemi sehingga banyak program yang pada waktu itu anggarannya dialihkan untuk penanganan COVID sehingga alhamdulillah sekarang kondisinya sudah lebih baik. Anggaran itu kini tersedia dan sekarang dilaksanakan,” ucapnya.

Anies mengatakan timbunan sampah yang melewati Sungai Ciliwung mencapai 52 ton per hari. Jumlah ini, kata dia, setara dengan satu unit bus TransJakarta. Dia berharap saringan sampah ini bisa mengendalikan sampah agar tak masuk ke Jakarta.

Kembali pada Rio, anggota komis A DPRD Jakarta ini mengatakan pada pelaksanaannya Anies sama sekali tidak menunjukkan komitmen menangani banjir Jakarta.

“Komitmen penanganan banjir DKI sangat lemah, sangat rendah bahkan nyaris tanpa iktikad untuk merealisasikannya. Janji normalisasi yang tertuang dalam RPJMD hingga akhir masa jabatan Gubernur Anies Baswedan 0 Km terlaksana,” tandasnya.

Rio mengungkapkan bahwa anggaran penanggulangan banjir di Jakarta terus dikurangi tiap tahunnya. Dia bahkan menyinggung soal pembatalan anggaran pembebasan lahan untuk normalisasi sungai.

“Sejak tahun 2018 anggaran penanggulangan banjir terus dicukur setiap tahunnya. Jumlah total anggaran penanggulangan banjir tahun 2018 mencapai Rp 3,5 triliun, hingga akhir tahun 2021 anggarannya menyusut hingga Rp 2,1 triliun,” ujarnya.

“Tahun 2019 Gubernur batalkan pembebasan tanah untuk normalisasi sebesar Rp 160 miliar, sehingga proyek ini berhenti dan belum dapat dilanjutkan kembali. Hingga Maret 2022 Pemprov DKI gagal capai target serapan anggaran banjir yang diperoleh dari Dana PEN,” imbuhnya.

Dwi Rio juga menyoroti hukuman pengerukan Kali Mampang, Jakarta Selatan, atas gugatan warga. Menurutnya, banjir di sekitar Kali Mampang terjadi meski tak musim hujan.

“Pemprov DKI dijatuhi hukuman berupa Pengerukan Kali Mampang oleh Pengadilan Tata Usaha Negara atas gugatan dari warga Mampang yang selalu terendam banjir meskipun bukan di musim penghujan,” katanya.

Mengenai pembangunan pengolahan sampah terpadu, Dwi Rio juga memberikan catatan. Dia menyebut proyek pengolahan sampah itu terhenti karena kendala pembiayaan.

“Proyek pembangunan pengolahan sampah terpadu (ITF) hanya sampai pada tahap peletakan batu pertama sebelum akhirnya mandek ditinggal oleh investor akibat terkendala pembiayaan,” pungkasnya. (mur)