Fraksi PDI Perjuangan Menilai Kinerja Anies Gagal Total

PARAMETER TODAYS, Jakarta – Gatot alias gagal total, demikian pandangan Fraksi PDI Perjuangan atas empat tahun kinerja Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Hal itu ditegaskan oleh Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Gembong Warsono pada acara Laporan Akhir Tahun 2021 Fraksi PDI Perjuangan DKI Jakarta di M Bloc Space, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (21/12/2021).

“Menurut orang Wonogiri, kerja Pak Anies itu namanya gatot alias gagal total dan cuma pandai retorika,” seloroh Gembong dalam kata sambutannya.

“Banyak sekali program yang disampaikan ketika Pilkada DKI tidak dijalankan. Padahal sudah disusun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2017-2022,” ujar politisi asal Wonogiri, Jawa Tengah ini.

Gembong menandaskan bahwa penilaian Fraksi PDI Perjuangan berdasarkan data. “Banyak program unggulan yang tidak berjalan sesuai target,” beber Gembong didampingi Sekretaris Fraksi Rio Sambodo dan hampir semua anggota fraksi.

“Contohnya, program OK OCE yang janjinya mencetak 281.812 UMKM cuma terealisasi 6.000-an. Ibarat jauh panggang dari api,” imbuhnya.

Program Rumah DP 0 Rupiah yang targetnya membangun 233.231 unit hunian vertikal hingga empat tahun ini cuma mencapai 0,3 persen. “Gubernur cuma membangun 967 unit dan yang sudah dihuni cuma 885 unit.

“Janjinya rumah tersebut dijual kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), namun kemudian diubah untuk masyarakat berpenghasilan minimal Rp 14 juta per bulan. Jadi yang dapat manfaat dari program tersebut bukan MBR atau rakyat kecil lagi. Kami menilai gagal,” pungkasnya.

Secara terpisah, Rio Sambodo mengatakan kinerja Anies tidak becus. “Misalkan program Rumah DP 0% janjinya 200 ribuan realisasinya hanya ratusan unit, hanya nol koma sekian persen dari target tapi sudah mengklaim terlaksana?”

Jadi, lanjut Rio, selama empat tahun Anies hanya sibuk membangun retorika alih alih membangun kota. “Gubernur sibuk klaim sana sini sementara kinerja nyata, semisal naturalisasi, mana? Apa yang dia lakukan?” tandas anggota Komisi A ini.

Sementara Gilbert Simanjuntak dari Komisi B menyoroti perilaku Anies yang sibuk dengan akrobat politiknya.

“Misalkan kenaikan upah minimum, Anies menaikkan sebesar 5,1 % secara sepihak. Mengabaikan hirarki koordinatif dengan Kementerian Tenaga Kerja dan tutup mata terhadap prinsip tripartit antara pengusaha – pemda – buruh!”

Gilbert mengatakan bahwa Anies hanya sibuk mengkapitalisasi amunisi politiknya. “Kalau yang 5,1 % diterima dia dapat nama dan kalau ditolak tetap dapat nama sementara potensi konflik horizontal antara buruh – pengusaha dan buruh – pemerintah pusat dia ga peduli! Dia hanya sibuk dengan progres politiknya,” pungkas Gilbert mengakhiri perbincangan.(mur)