Indonesia Masih Tetap Menjadi Pasar Menggoda Bagi Sindikat Narkoba Internasional

PARAMETERTODAYS, Jakarta – Sebagai negara tujuan utama penyelundup narkoba jenis sabu dan ekstasi, Indonesia dinilai para sindikat penyelundup narkoba internasional sebagai  pasar besar yang potensial. Ini karena jumlah pemadat narkoba jenis sabu dan ekstasi di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selain itu harga jual kedua jenis narkoba tersebut di Indonesia sangat tinggi.

“Di pasaran gelap, narkoba jenis sabu harga 1 gramnya mencapai Rp 1, 5 juta. Dan yang lebih miris lagi,  menurut pengakuan para tersangka narkoba, hukum di Indonesia terhadap para pelaku narkoba sangat ringan dan mudah diatur,”ungkap Ketua Indonesia Narkotic Wacth, Budi Tanjung, Senin (14/6) dalam siaran pers tertulisnya.

Menurut Budi, Kristal sabu itu tak hanya berasal dari negara-negara yang  disebut sebagai The Golden Triangle (segitiga emas) dalam dunia hitam penyelundupan narkoba, seperti Thailand, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Namun, Sudah banyak catatan kejahatan narkoba jenis sabu dari jaringan narkoba asal Timur Tengah (Iran). Sindikat ini selain menguasai pasar gelap narkoba di kawasan Asia Tenggara,  khususnya  Indonesia.

“Jaringan narkoba Iran sebenarnya telah terendus di Indonesia sejak lama. Berdasarkan data Direktorat Reserse Narkoba Bareskrim Polri, sindikat narkoba dari negara Timur Tengah itu mulai beroperasi di Indonesia sejak tahun 2009-Mei 2021. Dalam rentang waktu sebelas tahun 5 bulan ini, setidaknya sebanyak 2.097 ton sabu telah disita oleh aparat,”tambahnya.

Jadi, kata Budi menjelaskan, Bila dikonversi dengan harga dipasaran gelap sabu,  total nilainya sangat fantastis mencapai Rp 3,145 triliun.

Lebih jauh terkait Penyelundupan sabu oleh jaringan sindikat narkoba Timur Tengah, menurut Alumni Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini,  pada kurun waktu 2 tahun ini saja, terbesar terjadi pada 22 Mei 2020 di Serang (barang bukti sabu 821 Kg) berikutnya 4 Juni 2020 di Sukabumi (402 Kg) dan pada Mei 2021 di Gunung Sindur Kabupaten Bogor seberat 310 Kg.

“Para penyelundup narkoba sabu Timur Tengah asal Iran ini menggunakan cara, melalui jalur laut,”jelasnya.

Selanjutnya, Dengan strategi ship to ship, dari kapal ke kapal di tengah lautan.  Kapal yang membawa narkoba langsung dari Timur Tengah melalui Samudera Hindia dan tujuannya ke  Aceh,  dan ke beberapa wilayah di Pulau Sumatera dengan melewati jalur-jalur tikus.

“Dari Aceh barang haram ini pada umumnya dibawa oleh kurir Indonesia ke Pulau Jawa melalui jalan darat, dengan sistim sel terputus,”kata Budi.

Terkait jenis Narkoba yang paling digandrungi di Indonesia, menurutnya, Jenis narkoba selain sabu yang cukup marak di Indonesia, adalah pil ekstasi atau lebih dikenal dengan sebutan Inex.

“Peredaran inex di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia, umumnya terjadi di tempat hiburan malam,”imbuhnya.

Budi mengungkapkan, Dari hasil investigasi INW baru-baru ini,  harga sebutir inex di dalam diskotek NS di Jalan Mangga Besar,  Jakarta Barat mencapai Rp 650 ribu melalui waiters. Dan Rp 500. 000 langsung dari kaki tangan bandar.

“Diskotek NS disinyalir sebagai tempat  peredaran narkoba jenis inex terbesar di Ibukota Jakarta,”ungkap Budi yang juga penggiat media di lingkungan Polri tersebut.

Mengenai pengungkapan jaringan Narkoba oleh Polda Metro dan Polres Jakarta Pusat yang telah mengungkap penyelundupan narkoba jenis sabu  jaringan sindikat Timur Tengah dengan barang bukti seberat 1,1 ton, INW kata Budi mengapresiasi hal itu.

“Dari sisi jumlah barang bukti yang berhasil disita kali ini, INW manaruh apresiasi kepada pimpinan Polda Metro Jaya beserta anggota yang bekerja keras di lapangan,”kata Budi.

Namun di sisi lain, INW merasa sangat prihatin kenapa barang haram sebanyak itu masih bisa lolos masuk ke Indonesia.

Jadi, menurut Budi, hal Ini membuktikan bahwa, masih lemahnya sistem pengamanan yang sudah ada. Bisa juga karena masih ada oknum-oknum yang berani bekerjasama dengan para sindikat untuk memudahkan proses masuknya barang haram ini ke Indonesia.

Bahkan, kata Budi, Peralatan canggih yang dapat mendeteksi narkoba di seluruh bandara ataupun pelabuhan di Indonesia juga belum sepenuhnya digunakan sebagaimana mestinya. Terbukti, tidak jarang narkoba yang masuk ke sebuah daerah dibawa masuk oleh pelaku melalui bandara atau pelabuhan.

“Di samping itu, masih lemahnya penegakan hukum di Indonesia, menjadi salahsatu dari sekian banyak alasan bagi sindikat narkoba memilih Indonesia sebagai pasar paling potensial,”tuturnya lagi.

Oleh sebab itu, INW kembali mengingatkan aparat penegak hukum jangan ada lagi yang berkompromi dengan pelaku kejahatan narkoba. (Bes)