Jenderal Besar yang Takut Sama Sang Maha Jenderal

“TELADAN YANG MESTI DITELADANI”

PARAMETER TODAYS, Mandailing – Beberapa hari lalu, Jum’at, 17/09/2021, media ini bertandang ke Rumah Kelahiran Jenderal Besar A.H.Nasution atau Pak Nas panggilan akrabnya, tepatnya di Kotanopan – Mandailing Natal (*Kab.MADINA*).

Dalam lawatan tersebut penulis tertarik dengan kesederhanaan Sang Jenderal juga kehidupan masa kecilnya.

Pak Nas memang dilahirkan tahun 1918 di desa Hutapungkut Jae, kecamatan Kotanopan, yang dikenal dingin dengan sebutan Kota pejuang dan pendidikan. Di kota kecil ini pak Nas menghabiskan masa kecilnya. Sebagai anak kecil lainnya, mandi di sungai, main kejar – kejaran, sembunyi – sembunyian, main perang – perangan. Bila sore tiba tak lupa mengaji di madrasah atau sikola Arob istilah kampungnya masa itu. Masa – masa kecil yang cukup indah dihabiskan dikampung yang masih asri, dengan hutan lebatnya.

Sedang pendidikan formalnya semacam SD, Sekolah Belanda masa itu yang disebut HIS ( Holland Indisc School ) di Pasar Kotanopan. Sekolah tersebut masih berdiri kokoh sampai sekarang dan berganti nama SD. Negeri 01 Kotanopan, berjarak kurang lebih 8 km dari Hutapungkut. Penulis juga sempat bersekolah di sekolah tersebut.
Karena kecerdasan A. H. Nasution kecil, atas arahan gurunya di HIS , akhirnya disuruh melanjutkan sekolah pendidikan guru ke Bukittinggi.

Waktu terus berjalan, sang Jenderalpun menammatkan sekolah guru di Bukit tinggi, dan menjadi seorang guru di Bengkulu. Dalam perjalanan karier seorang guru tak puas hanya disitu. Ketika pada waktunya ada lowongan untuk menjadi militer, beliaupun mencoba untuk melamar, Alhamdulillah lolos. Walau sebenarnya orangtuanya tidak menginginkan beliau menjadi guru apalagi militer. Orang tuanya sebenarnya menginginkan beliau jadi Ustadz atau ulama / guru ngaji.

Sebagaimana kebiasaan orang di kampungnya melanjutkan pendidikan di pesantren. Semisal pesantren yang sudah ada masa itu, bahkan berdiri kokoh sampai saat ini yaitu pesantren Musthafawiyah purba baru, atau yang dikenal dengan pesan tren Purba. Letak pesantren itu juga masih satu kecamatan dengan desanya pada masa itu yaitu kecamatan Kotanopan – Tapanuli selatan. Bahkan pemilik pesantren tersebutpun masih punya hubungan kekerabatan dengannya.

Namun karena jiwa patriotismenya yang selalu membara, sebagai anak lelaki Mandailing, ingin mencoba tantangan baru. Karier di kemiliteran sangat cemerlang, dan merupakan salah satu Jenderal terbaik dan berkarier murni. Dia bukanlah Jenderal Nagabonar, tapi dia adalah bonar – bonar Jenderal, yang taat aturan dan agama. Jenderal yang memegang perinsip ” Lebih baik patah daripada Bengkok” sebagaimana perinsip leluhur Mandailing. Membuat dia disegani kawan maupun lawan. Dan menjadi idola dan teladan bagi militer bahkan Jenderal yang lain.

Jenderal penuh yang menjadi target utama G.30.S.PKI, yang akhirnya lolos, dari kebiadaban PKI. Menjadi saksi mata dan sejarah tentang penghianatan PKI di Tanah air. Sungguh mengharukan sekaligus memilukan apa yang dialami sang Jenderal ini. Disamping beliau terluka, beliau harus kehilangan putri yang lagi lucu – lucunya. Dialah Pahlawan cilik atas kesaktian Pancasila Ade Irma Suryani Nasution.

Kali ini, dalam lawatan Bang Lubis awak Media online ke kediaman Jenderal A.H.Nasution, tidak membahas atau mengupas segudang prestasi kemiliterannya. Ataupun jasa – jasanya terhadap bangsa ini, bahkan terhadap dunia kemiliteran. Hal itu tentunya sudah menjadi rahasia umum, bahwa karier militernya cukup cemerlang. Sampai akhirnya dinobatkan sebagai Jenderal Besar bintang lima yang hanya ada tiga di negeri ini.

Namun kali ini kita ingin membedah kesederhanaannya dan ketaatannya kepada agama sebagai seorang Jenderal Besar. Dan tentunya boleh jadi hal ini masyarakat belum banyak tahu.

Maka dalam rangka menjelang peringatan detik – detik penghianatan Gerakan 30 September 1965. Median online Parametertodays, akan mengupas secara detail, tuntas, gamblang tentang kesederhanaan Sang Jenderal. Tentunya dikutip dari sumber Asli yang terpercaya langsung dari kerabat Jenderal dan saksi hidup. Dari Bumi Gordang sambilan, Negeri beradat taat beribadat, nun jauh di balik bukit barisan Sumatera. Hal ini juga dimaksudkan demi menguatkan rasa patriotisme anak bangsa dan menumbuh kembangkan rasa cinta Tanah air. Serta tetap mendorong rasa kebhinnekaan yang berlandaskan Pancasila. Juga bak kata pepatah lama .’ Tak kenal maka tak sayang,” Bagaimanapun kita harus mengetahui dan mengenang jasa pendahulu bangsa, sehingga timbul rasa cinta Negeri. Bahwa demi merebut kemerdekaan, demi mempertahankan kemerdekaan, demi mempertahankan Pancasila tidak cukup hanya bicara, atau wacana. Atau juga tak cukup hanya pantun atau sajak serta puisi. Tapi lebih dari itu, harus dijabarkan dalam perbuatan dan karya nyata. Sebagai anak bangsa jangan sampai lupa kacang pada kulitnya, jangan sampai tak tau dengan sejarah bangsanya. Dalam merebut kemerdekaan ini, leluhur kita tak berpangku tangan ataupun berompimpa layun gamble. Tapi segala upaya dilakukan demi merebut kemeredekaan, mulai dari cucuran keringat, air mata, bahkan darah, nyawa menjadi taruhannya.

Kini generasi sekarang tinggal mengisi dan mempertahankan kemerdekaan, haruskah asyik dengan gadgetnya, haruskah asyik dengan hp nya, tanpa harus perduli terhadap keadaan bangsa saat ini. Sebagai anak bangsa jangan sampai seperti kata bung karno. JASMERAH alias Jangan Sampai Melupakan Sejarah. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya.
Pada kesempatan kali ini kami berhasil bincang santai dengan salah satu cucu Sang Jenderal bernama Muhammad Yusuf Nasution.

” Kakek itu memang sangat kuat memegang agama. Beliau sangat perinsip, apa yang diajarkan agama paling takut untuk dia langgar. Dia tidak mau mengambil yang bukan haknya. Kakek sangat takut pertanggungjawabannya di akhirat nanti.” Ujarnya sambil menunjukkan fhoto – fhoto sang jenderal semasa kecil sampai jadi jenderal. Dan juga menunjukkan beberapa buku pak Nas dengan judul ,” memenuhi panggilan tugas jilid 1 – 8, serta buku – buku yang lain. Media ini juga sempat diajak keliling di beberapa ruangan di rumah peninggalan kakeknya.

Ketika kami mau memasuki rumah kediaman jenderal yang masih asli, terbuat dari panggung dan dinding papan. Akhirnya tidak bisa, karena rumah tersebut dipakai mahasiswi UISU ( Universitas Islam Sumatera Utara ) yang lagi KKN.

Salah satu bukti Pak.Nas sangat kokoh memegang agama. Pada tahun 1965 selepas peristiwa G.30.S.PKI, sang Jenderal pulang kampung untuk syukuran atas lolosnya dari kebiadaban PKI. Ketika pas di depan rumah kakeknya, karena acara rencana diadakan disitu. Pak Nas Melihat rumahnya berubah total dari panggung menjadi beton semi permanen. Beliau kontan menolak masuk ke rumah itu, memilih masuk ke rumahnya (ayahnya) tempat kelahirannya yang bersebelahan dengan rumah kakeknya.

” Itu rumah siapa, tanyanya saat itu, dijawab keluarga, rumah kita. Siapa yang bangun, keluarga jawab pemerintah. Kontan dia tak mau masuk rumah itu. Setelah dibujuk dan diberi pemahaman, serta musyawarah keluarga yang diadakan di rumah ayahnya. Dia berjanji akan menyicil semua biaya rumah itu dipotong dari hasil gajinya setiap bulan. Barulah dia mau masuk rumah itu”.ujar cucunya dengan ramah melayani media ini.

Pada cerita lain juga, cucunya sempat berkesah. Pemerintah Sumatera utara bahkan pemetintah Kabupaten MADINA, khususnya Bupati MADINA tak pernah sekalipun hanya sekedar mengunjungi rumah tersebut. Bahkan sejak MADINA dimekarkan menjadi sebuah kabupaten jangankan Bupati, pejabat MADINA pun tak pernah datang. Apa memang Bupati MADINA tidak tau sejarah, tidak mengerti sejarah atau memang tidak mau tau sejarah. Padahal harapan pihak keluarga dikunjungi hanya sekedar menghargai keberadaan sang Jenderal. Tak sedikitpun niat dihati keluarga untuk mendapatkan bantuan sepersenpun.

” Sejak Mandailing ini jadi Kabupaten dipimpin seorang Bupati, tak satupun Bupati yang pernah hadir kesini. Padahal andaipun hadir kami bukan mengharap bantuan, cuma sekedar menghargai, bahwa salah satu putra terbaik bangsa berasal dari Mandailing, ” pungkas usuf panggilan akrabnya dengan nada sedih.

Di bagian cerita lain, salah seorang yang pernah tinggal dikediaman sang Jenderal di Jakarta jln. Teuku Umar Menteng bernama H.Lubis mengisahkan prihal kejujurannya.

” Bapak orangnya sangat jujur tidak mau memakan yang bukan haknya. Bapak tidak mau mengotori tubuhnya dengan barang haram. Maka setiap pemberian orang baik duit maupun makanan, entak apa saja Bapak selalu tanya darimana, tujuannya apa dan selalu di tolak sama Bapak. Bapak tolak kadang, kami yang tinggal disitulah kadang yang makan kalo dia makanan, maklumlah kami perantau dari kampung, semua masih lajang, karena dikembalikanpun tak tau kemana dikembalikan, itulah mantikonya ” ungkapnya sambil tertawa.

Ketika media ini menanyakan apakah rumah sang Jenderal pernah direnovasi. Usuf mengatakan belum pernah direnovasi, kecuali hanya ganti atap dari ijuk ke atap seng. Dan ada penambahan dapur ketika tahun 1982, rencana Sang Jenderal akan pulang kampung lagi. Namun pada masa itu pemerintah Orde Baru mempersulit akhirnya tidak jadi pulang.

Jend.A.H.Nasution merupakan Jenderal Miskin harta tapi kaya hati. Sangkin miskinnya harta, sampai akhir hayatnya tak punya rumah. Masih menurut cucunya, sedang rumah yang di Jakarta yang beliau diami merupakan rumah pembelian mertuanya, yang akhirnya dijadikan museum Jenderal.A.H.Nasution.

” Kalo yang di Kampung ini rumah kelahiran kakek milik orang tua kakek. Kalo yang ditempatinya yang di Jakarta, rumah pembelian Mertua Kakek. Begitulah takutnya kakek bicara masalah dunia. Kakek memang Jenderal besar yang takut sama sang Maha Jenderal yaitu Allah.” ujar cucunya sambil menunjuk ke atas, menutup pembicaraan dengan media ini.
Jenderal Besar A.H.Nasution memang jenderal yang cukup berpengaruh pada masanya dan menjadi teladan para militer bahkan banyak Jenderal.

Ketika masa pensiunnyapun masih saja banyak militer yang bersimpati padanya, sehingga dimasa Orde Barupun beliau mendapat pengawasan ketat, sampai tidak bisa kemana – mana. Dipenghujung hidupnya selain banyak.mengarang buku, juga kerja sosial. Dan yang paling mengasyikkan bagi dirinya mengabdikan diri sebagai pendakwah di Masjid Cut Meutia di Menteng Jakarta Pusat. (Rahmad Lubis)