Maddaik Jagung, Salah Satu Kegiatan Tani Usai Panen

PARAMETER TODAYS, Dairi – Maddaik Jagung (kegiatan menjemur), salah satu kegiatan para petani setelah memanen jagung. Tujuannya, agar bertahan lama. Karena, jika dalam kondisi ber air atau lembab, maka biji jagung akan mudah busuk. Kebiasaan ini sudah menjadi kegiatan rutin warga Laepinang, Desa Bintang, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Prov. Sumatera Utara.
 
Dalam proses menjemur Jagung hingga kering, lalu kemudian kembali dimasukkan ke dalam karung, tentu membutuhkan tenaga orang dewasa. Termasuk anak anak yang sudah beranjak remaja, sudah dipastikan terlibat dalam kegiatan tersebut. Untuk membantu orang tuanya menggelar terpal plastik, mengangkat karung yang berisikan biji jagung yang bakal dijemur. Kemudian, mengembalikannya ke tempat semula setelah dipastikan kering usai di jemur.
 
Kebiasaan ini adalah salah satu kesan indah yang melekat bagi Patar Situmorang. SH, Putera Dairi kelahiran, Laepinang, Desa Bintang, Kec. Sidikkalang, Kab. Dairi, Prov Sumatera Utara. Patar yang saat ini, Rabu (21/4) sedang berada di Desanya ikut terlibat membantu rekannya saat kecil, Charles Sianturi untuk mandaik jagung milik Charles.
 
“Satu hal yang sangat saya banggakan di kampung saya Laepinang, Desa Bintang adalah, rasa kebersamaan dan gotong-royong. Seusai olaraga tadi pagi saya berbincang-bincang dengan para orang tua yang sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Kemudian tadi siang, ada teman semasa sekolah dulu dikampung yg bermama Charles Sianturi yang menjemur jagung hasil panennya. Jagung dijemur persis di halan depan rumah tinggalnya.
 
Hasil panennya lumayan banyak. Tapi sekitar pukul 11.30 tadi cuaca tiba-tiba mendung seakan mau turun hujan. Sontak, saya dan orang lainnya keluar dari rumahnya masing masing untuk membantu Charles mandaik atau mengumpulkan jagung yang dijemur
 
Hanya dalam hitungan menit, biji jagung yang dijemur tadi bisa dikumpulkan. Biji jagung pun sudah kering dan tidak sempat terguyur hujan. Kemudian kami taruh ke teras rumah Charles sebagai pemiliknya. Saya sangat bangga dengan jiwa kebersamaan yang ditunjukkan orang orang di kampung saya yang masih memegang teguh prinsip saling bantu satu dengan yang lainnya.
 
Juga masih tetap menerapkan kehidupan yang bergotong royong. Di tengah fenomena sekarang. Dimana sebagian besar daerah. Orang orang sudah sangat individualistis dan kurang peka terhadap masalah yang dihadapi orang orang sekitarnya,”kata pria kelahiran Laepinang, Patar Situmorang SH, yang kini tinggal di kota tanah rantau Bekasi, Jawa Barat. (Bes, Amudi)