Mengenang Pendeta Ramlan Hutahaean Mth

PARAMETERTODAYS, Jakarta – Sang motivator itu telah berpulang, sosok inspiratif yang banyak melahirkan ide dan gagasan bagi perubahan mental ke arah yang lebih baik. Dia adalah Pendeta Ramlan Hutahaean Mth.

Demikian dikatakan oleh James Arifin Sianipar (JAS), mengenang kepergian Pendeta Hutahaean pada Rabu (30/6/2021), melalui pesan WhatsApp nya, Jumat (2/7/2021).

“Almarhum banyak memberikan inovasi dan terobosan yang membangun keimanan baik semasa beliau menjadi Sekjen HKBP, semasa aktif sebagai Pendeta HKBP Rawamangun bahkan setelah pensiun beliau masih mendirikan Yayasan Bina Harapan Kasih (YBHK), bukti betapa almarhum tidak ada hentinya melayani masyarakat sepanjang hidupnya,” ujar JAS.

Almarhum Pendeta Hutahaean (1955-2021) pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal HKBP periode 2008-2012.

Lahir di Sipahutar, Tapanuli Utara pada tanggal 7 September 1955. Mengenyam pendidikan SD di Sipahutar, melanjutkan SMP-SMA di Tarutung lalu memasuki sekolah Theologia STT HKBP Pematang Siantar dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tanggal 9 November 1986.

“Semasa hidupnya, almarhum banyak melahirkan ide dan gagasan yang bagi saya pribadi termasuk revolusioner. Seperti visi dan misi yang dikembangkannya di YBHK, yakni membina dan membantu sesama tanpa memandang keyakinannya,” tukas JAS.

Mantan Sekretaris Komisi C DPRD DKI Jakarta ini bertindak sebagai Pengawas di YBHK. “Almarhum yang menginspirasi saya untuk aktif di YBHK,” ungkap JAS.

Menurut JAS, di hari hari akhir hidupnya Pendeta Hutahaean sangat risau dengan pandemic Covid yang mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

“Almarhum banyak meluangkan waktunya mengikuti pemberitaan pandemi Covid, membaca berbagai literatur, study kepustakaan, terjun ke lapangan sampai akhirnya memutuskan untuk menulis buku tentang Covid yang diberi judul ‘Corona Riwayatmu Kini’ dengan sub judul ‘Memaknai Dampak Corona’,” ungkap JAS.

Dalam buku itu Pendeta Hutahaean menguraikan di BAB I tentang pengenalan apakah sebenarnya Corona itu?

Dilanjut dengan ulasan bagaimana Covid menjadi bencana global di BAB II. Lalu membahas efektifitas kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar bagi penanggulangan Covid pada BAB III.

BAB IV mengulas efek yang terjadi dengan mewabahnya Covid.

BAB V Pendeta Hutahaean menekan spirit Kekristenan agar tidak takut dan tetap yakin dan percaya sekalipun di tengah kekelaman yang melanda.

Diikuti pendalaman makna atas mewabahnya pandemi Covid dari persfektif Kekristenan pada BAB VI.

BAB selanjutnya, yakni BAB VII sampai Penutup di BAB XVI, Pendeta Hutahaean menerangkan bagaimana memandang kehidupan di tengah pandemi, menyikapi kebijakan pemerintah terkait pandemi, mengulas peran dan posisi gereja serta bagaimana kita sebaiknya bersikap atas fenomena ini.

” Inilah buah karya terakhir almarhum buat kita, buku ini diselesaikan di masa masa akhirnya hidupnya,” kenang JAS.

Menurut JAS, Pendeta Hutahaean melalui buku karya terakhirnya, mendeskripsikan tekanan dan ketidak puasan yang dialami masyarakat akibat pandemi Corona.

“Lalu almarhum menawarkan solusi untuk menyiasati hidup di tengah pandemi ke arah yang lebih baik,” ungkap JAS.

“Itulah persembahan terakhir Pendeta Hutahaean buat masyarakat. Selamat jalan amang Pendeta,” pungkas JAS mengakhiri. (mur)