Pakar: Jubir Harusnya Berlatar Belakang Komunikasi

PARAMETER TODAYS, Jakarta – Kursi Juru Bicara Presiden kini kosong setelah ditinggalkan Fadjroel Rachman yang dilantik menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Senin (25/10/2021).

Untuk mengisi kekosongan posisi  tersebut, menurut Komunikolog Indonesia Emrus Sihombing, sosok yang pas untuk menjadi juru bicara Presiden pengganti Fadjroel Rachman harus memiliki latar belakang komunikasi.

Alasannya, kata Emrus, orang yang memahami konsep teori komunikasi dan etika komunikasi serta lebih profesional memang harus berlatarbelakang komunikasi.

“Coba bayangkan Jaksa Agung backgroundnya komunikasi bukan sarjana hukum, kacau kan. Nah hal yang sama jubir presiden harus S1-S2-S3 komunikasi. Karena dia menguasai konsep teori dan etika komunikasi,” terang Emrus ke parametertodays.com, Kamis (28/10/2021).

Selain itu, Emrus menekankan jubir Presiden jangan dari partai politik. Karena, tugas jubir salah satunya yakni menjembatani kepentingan politik. Sehingga, jika jubir Presiden dari partai politik maka akan bertindak atas dasar ekskusifitas politik.

“Jangan orang partai, harus orang yang bukan partai,” ucapnya.

Emrus menambahkan, bahwa jubir Presiden yang akan dipilih oleh Jokowi harus menjembatani, menyambungkan, menyatukan, dan mesinergikan kepentingan satu dan lain. Termasuk, pemerintah dengan rakyat, partai politik dan kepentingan ekonomi, hukum dan HAM.

“Kalau mau evaluasi, masa jabatan Fadjroel tidak produktif sebagai jubir presiden, nah supaya tidak terulang lagi idealnya tentu saya sarankan Komunikolog tadi,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa tak kalah pentingnya jika jubir Presiden harus orang yang dekat dengan Presiden.

“Presiden harus nyaman dengan sosok tersebut. Dan siapapun jubir presiden idealnya jubir ini orang yang memiliki tingkat keterkenalan di ruang publik,” pungkasnya. (Baho)