PBNU dan HKBP Jalin Kerja Sama Tangkal Intoleransi

Sekjen PBNU Dr Helmy Faishal Zaini dan Ephorus HKBP Robinson Butarbutar, dalam dialog antarumat beragama, di Sopo Marpikir, jumat (28/5). (foto - PMH)

“Tantangan aktual yang kita hadapi sekarang adalah penanggulangan pandemi Covid-19, serangan siber, serta radikalisme. Dan terutama intoleransi yang belakangan semakin mengancam”

Parametertodays, JAKARTA – Gereja Huria Kristen Batak Protestaan (HKBP) bersama Pengurus Besara Nahdlatul Ulama (PBNU) gelar dialog antar umat beragama di Gedung Sopo Marpikir, Pulo Gebang, Jakarta Timur, Jumat (28/5/2021).  

Selain dialog, acara juga diisi dengan kerja sama antara HKBP dengan PBNU yang bertujuan untuk menghasilkan kontribusi bagi pembangunan bangsa, khususnya dalam mengikis inteloransi.

Hadir sebagai pembicara, Sekjen PBNU Dr Helmy Faishal Zaini, Ephorus HKBP Pdt Dr Robinson Butarbutar, jajaran Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), dan jajaran HKBP Distrik XIX Bekasi.

Dalam sambutannya, Ephorus Robinson mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama dan Huria Kristen Batak Protestaan adalah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.

“Saat ini HKBP mewadahi sekitar lima juta umat yang tersebar di seluruh Indonesia dan bererapa negara di Asia, Eropa, serta Amerika. Demikian juga NU mewadahi puluhan bahkan ratusan juta umat. Oleh karena itu perlu kerja sama yang lebih erat antarlembaga keagamaan ini guna menghasilkan kontribusi maksimal bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.

Demi menindaklanjuti bentuk kerja sama tersebut, dalam waktu dekat Pdt Robinson Butarbutar berencana akan berkunjung ke Kantor Pusat NU di Jombang, Jawa timur.

“Tantangan aktual yang kita hadapi sekarang adalah penanggulangan pandemi Covid-19, serangan siber, dan radikalisme. Dan terutama juga soal intoleransi yang belakangan semakin mengancam. Berbagai tantangan tersebut menuntut kita sebagai organisasi keumatan agar lebih solid,” ujar Ephorus.

Peserta foto bersama usai acara

Dia ingatkan pula, politisasi perbedaan keyakinan sering dijadikan oleh berbagai pihak menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Dan akibatnya yang menjadi korban adalah umat itu sendiri.

Untuk itu Ephorus memaparkan tiga langkah sebagai penangkal ekploitasi umat, intoleransi, dan radikalisme yang kian merongrong bangsa.  “Yakni, peningkatan kedewasaan dalam beragama, penolakan atas politisasi agama, dan memperbanyak aksi kebersamaan secara lintas agama,” pungkasnya. (jay)