PPLI Luncurkan Giant Insinerator Pengolahan Limbah B3 Terbesar di Indonesia

PARAMETER TODAYS, Jakarta – PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) dikenal sebagai salah satu perusahaan pengolah limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang terbesar di Indonesia dengan luas lahan mencapai 64 hektar, berpusat di Klapanunggal Bogor, Jawa Barat.

Sebagai perusahaan yang fokus pada pengolahan limbah B3 selama lebih dari 27 tahun, jajaran manajemen terus mengembangkan teknologi pengolahannya mengingat jenis Limbah B3 yang harus ditangani oleh PPLI kian meningkat dan meluas seluruh negeri.

Demikian diungkapkan Presiden Director PT PPLI, Yoshiaki Chida kepada wartawan pada saat acara Peluncuran Insinerator Inovasi Penanganan Limbah Industri yang diadakan di Jalan Raya Narogong, Desa Nambo, Klapanunggal, Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022).

“Peningkatan kapasitas insinerator salah satunya,” imbuhnya.

Yoshiaki menerangkan, pihaknya telah membangun insinerator sebagai solusi penanganan limbah B3. Insinerasi merupakan proses pengolahan limbah yang memanfaatkan energi panas untuk membakar limbah yang dilakukan secara terkendali pada suhu tinggi dalam suatu alat tertutup.

Tingkat efisiensi pembakarannya dan penghilangan penghancuran mencapai 99 persen untuk konstituen organik berbahaya (POHCs), sebagaimana dikonfirmasi oleh uji coba pembakaran atau Trial Burn Test (TBT).

“Untuk investasi pembangunan insinerator ini sekitar Rp 300 miliar di lahan kurang lebih 53 hektar,” papar pria kelahiran negeri Sakura 48 tahun silam itu.

Ia menjelaskan, jenis-jenis limbah yang dapat dikelola mulai dari bekas medis dari fasilitas kesehatan : limbah organik yang dapat terbakar seperti, oil sludge, paint sludge, used rags.

Juga limbah berbahan plastik, bahan dan produk kedaluwarsa, lumpur bekas pengeboran, sludge IPAL industri, bahan kimia kedaluwarsa dan sisa sampel lembaga riset serta limbah-limbah yang pemusnahannya disarankan dengan pembakaran seperti limbah pestisida.

“Kami memiliki fasilitas modern yang ramah lingkungan dengan kapasitas pemusnahan limbah B3 mencapai 50 ton per hari,” ujarnya.

Sales and Marketing Direktor PPLI, Machmud Badres mengatakan limbah B3 di Jakarta dan sekitarnya masih ditangani di satu lokasi yang sama di Desa Nambo. Jarak lokasi yang masih terjangkau, membuat limbah B3 dari Jakarta dan sekitarnya kerap dikelola di lokasi tersebut.

“Kami praktis karena fasilitas penimbunan ini satu-satunya yang baru ada di Indonesia. Maka kami menerima limbah itu dari seluruh Indonesia tapi memang karena ongkos logistik masih menjadi beban makanya kami melayani mergerity wilayah Jawa Barat. Untuk Jakarta masih kami cover di Cileungsi ini karena jarak (terjangkau),” kata Badres.

Sementara itu, Duta Besar Jepang untuk RI, Kenji Kanasugi mengucapkan selamat atas diresmikannya pengolahan limbah menggunakan insinerator.

“Pengolahan limbah B3 ini menggunakan teknologi Jepang. Kami telah menerapkan pengolahan limbah sejak sektor industri berkembang pesat di Jepang pada dekade 1960-an. Saya berharap PPLI bisa terus menjalankan pengolahan limbah, termasuk limbah berbahaya. Kami Kedubes Jepang di Indonesia akan terus memberikan dukungan upaya penanganan limbah di Indonesia,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (B3) pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI Sayid Muhadhar berharap, PT PPLJ dapat membangun fasilitas serupa di lokasi-lokasi lain di Indonesia. Kata dia, semakin dekat fasilitas tersebut dengan sumber penghasil limbah akan menekan biaya pengangkutan.

“Harapannya biaya penanganan limbah B3 ini bisa semakin murah. Apalagi, saat ini pemerintah sedang giat-giatnya mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kawasan-kawasan industri,” kata Sayid.

Berdasarkan data di Kementerian KLHK RI – lanjutnya – setidaknya ada 60 juta ton limbah yang harus ditangani. Dia menilai, pihak terkait memiliki kesempatan yang besar dalam pengelolaan limbah industri B3.

“Kesempatan ini masih besar sekali yang bisa dilakukan di Indonesia dan dapat mendorong sirkular ekonomi. Kami juga berharap, jangan ada penularan Covid-19 karena limbah tidak ditangani dengan baik,” ujar Sayid.

Sebagai informasi, PPLI merupakan perusahaan Indonesia yang telah beroperasi sejak tahun 1994 dengan menyediakan jasa pengumpulan, daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah B3 dan limbah non B3.

PPLI dimiliki 95 persen oleh Dowa Eco-System Co, Ltd asal Jepang dan lima persen oleh pemerintah Indonesia melalui PT Perusahaan Pengelolaan Aset (Persero). (mur)