Tour of Sumatera, Sejarah Transportasi Negeri “BIS 1001 LEGENDA YANG MENDUNIA”

PARAMETER TODAYS, Mandailing – Pada zamannya transportasi darat sangatlah berperan dalam menghantarkan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain.

Juga sangat berperan dalam memobilisasi barang guna menunjang perekonomian masyarakat.

Tapanuli selatan di Sumatera Utara, termasuk pioner pelopor / gudang Transportasi darat di Sumatera. Daerah ini cukup banyak melahirkan legenda – legenda bis. Termasuk salah satunya legenda bis Sibual – buali asal Sipirok yang cukup melegenda, namun sekitar tahun 2000an sempat berhenti operasi.

Disusul kemudian si Raja paket asal Mandailing, bis PT. ALS ( Antar Lintas Sumatera ). Yang sampai hari ini setia mengaspal di balik Bukit Barisan Sumatera, bahkan sampai pulau Jawa, juga sempat ke Bali.

Bis yang satu ini selain dijuluki si Raja paket, juga dapat julukan si Raja Jalanan Sumatera.

Bis yang berdiri di Kotanopan – Mandailing, kota perjuangan dan pendidikan ini tahun 1966. Mulanya hanya angkutan jarak pendek yang melayani pedagang / inang – inang, dari Kotanopan, Muarasipongi, Bukit tinggi, dan Medan. Lintas Mandailing Minangkabau, Lintas Mandailing Tanah Melayu. Seiring berjalannya waktu mendapat sambutan dari Masyarakat Sumatera. Tak hayal oleh pendirinya H.Sati Lubis memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menambah armada dan trayeknya. Sesuai namanya Antar Lintas Sumatera, tancap gas mengisi kota – kota di pulau Sumatera, mulai dari Tapaktuan (Aceh) sampai Tanjung karang (Lampung).

Mengingat peminat, pangsa pasar transportasi darat serta pelayanan yang prima. Pihak Management PT. ALS, tak berpuas diri di Sumatera. Akhirnya melirik peluang pulau jawa, walau pada saat itu karena armada ferry penyeberangan belum tersedia. Maka pihak direksi dan management putar otak untuk menyeberangkan penumpang ke kota tujuan di pulau jawa. Akhirnya dibukalah kerjasama dengan perusahaan di Merak, guna menghantarkan penumpangnya di berbagai kota di pulau Jawa.

Hingga akhirnya sekitar tahun 1980, armada ferry penyeberangan Bakauheni Lampung – Merak Banten tersedia. Bis ALS pun semakin dikenal dan berjaya.
Maka tak pelak bis ALS pun merajai jalanan Lintas Sumatera dari berbagai lintasan.

Terhitung masa kejayaan bis ALS diawal tahun 1980 an sampai tahun 1990 an. Dan hampir semua bispun mengalami hal yang sama. Baru tahun 2000an, hampir semua bis mengalami kelesuan termasuk ALS.
Hal itu diakibatkan murahnya harga ticket pesawat yang seakan diobral.
Pada masa itu banyak perusahaan bis yang megap – megap, bahkan ada juga yang gulung tikar.

Namun legenda satu ini mencoba tetap bertahan walau berat. Dengan peningkatan pelayanan yang ramah dan bersahabat, penuh kekeluargaan. Juga harga yang pas untuk perantau serta pelajar mahasiswa. Bis yang tetap mempertahankan chasis Mercedes benz, walau awalnya pernah memakai chevrolet buatan Amerika. Bis ini tetap melaju menghiasi melintasi jalanan Sumatera bahkan Jawa.

Bermodalkan pengalaman puluhan tahun, serta awak bus yang serba bisa. Tak gentar menghadapi kompetitor anyer yang menampilkan bis – bis mewahnya.

Tak dipungkiri, bis legenda ini telah banyak membantu penyebaran penduduk, khususnya perantau. Pada masa pemerintahan orde baru, tak jarang, bis ini mengantarkan para transmigran ke berbagai kota di pulau Sumatera.

Rintangan tantangan biasa ditemui dijalanan, dari bajing loncat, perampok berkedok penumpang. Bahkan sering dihadang kawanan gajah, juga harimau sumatera yang terkenal garang.
ALS bis yang melegenda ini termasuk juga yang memperkenalkan krupuk, garam bagi suku anak dalam di Jambi.

Keras dan extrimnya Lintas Sumatera menjadi santapan sehari – hari awak bus. Tekad yang kuat menghantarkan penumpang hingga sampai tujuan menghilangkan rasa takut buat awak bus.
Tebing, Jurang, banjir, Longsor,pohon tumbang, tepi sungai, jalan sempit, menanjak, curam, sungguh pemandangan sehari – hari bagi crew bus.

Body bus yang terkesan, kumal, kotor sangatlah wajar, karena menempuh perjalanan panjang. Bagi penikmat bus dan masyarakat Sumatera, bis ALS bukan merupakan barang asing lagi.

Sesuai namanya mewakili nama Sumatera, maka tak diragukan lagi, masyarakat Sumatera sangat mencintainya.

Hampir di sepanjang Lintas Sumatera juga bertabur mantan – mantan crew bis ini. Jasa bis ini untuk menunjang perekonomian Negeri juga tak bisa dibantahkan. Bahkan telah banyak perantau yang dihantarkan jadi pejabat, pengusaha, politisi, Menteri bahkan jadi Jenderal.

Dengan usia setengah abad lebih, tanpa ada rasa bosan dan putus asa dari direksi dan management untuk tetap exsis.
Satu hal juga yang patut diacungi jempol, bahwa pemilik bis ini bukan satu orang. Bis ini memiliki pemilik 9 orang yang hampir semua ada hubungan keluarga.

Kepemilikan bis ini juga bisa dilihak di pintu bis itu sendiri. Ditandai diakhir nomor pintu, seumpama 01,11,21,31,41. Pemiliknya adalah direksi.

Walau bis ini berasal dari Mandailing, namun untuk awak bus dan pengurus cabang – cabangnya di berbagai kota. Tak sebatas orang Mandailing saja.

Legenda bis yang mendunia ini, sudah banyak perubahan dari tampilan. Dari segi warna dan tampilan dari masa ke masa sangat dinamis. Hingga akhirnya bertahan pada tampilan warna hijau menyatu dengan alam Sumatera.

Dalam lawatan ke Sumatera, khususnya Mandailing, Pada Senin, 23 agustus 2021, Media ini tertarik melihat onggokan bis disamping rumah. Yang akhirnya penulis menyambanginya, mencoba menggali keberadaan bis tersebut.

Tampilan awal bis ini, sebagai saksi bisu sejarah transportasi Indonesia saat ini bisa dilihat di Kotanopan (Jamburtarutung ). Bis tersebut dipajang di samping rumah direksi ALS, H.Chandra Lubis yang merupakan anak dari sang pendiri. Alm.H.Sati Lubis. (Rahmad Lubis)