Warga Desa Sipultak dan Desa Lumban Ina Ina Demo Menuntut Tambang Batu PT. MIK Ditutup

PARAMETERTODAYS, Pagaran – Ratusan warga yang berasal dari Desa Sipultak dan Desa Lumban Ina Ina, Kec. Pagaran, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara melakukan Aksi Demonstrasi Jumat (11/6), Mereka menuntut Tambang batu yang dikelola oleh PT. Marlian Indah Karya (MIK) ditutup.

Dalam aksinya, ratusan warga Desa Sipultak meneriakkan Yel yel. Para kaum ibu ibu rumah tangga yang juga ikut dalam aksi ini, melakukan aksi duduk di jalan atau pintu akses menuju Tambang Batu di Dusun Simeme, Desa Sipultak, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli Utara.

Dalam orasinya, Koordinator Aksi unjuk rasa, Enriko Nababan mengatakan, Bahwa, keberadaan Tambang Batu milik PT. MIK telah merusak jalan di Desa Sipultak, karena sejumlah angkutan milik PT. MIK yang kadang melintas dengan muatan melebihi tonase Jalan. Padahal, jalan tersebut, adalah jalan yang dibangun oleh nenek moyang warga Sipultak.

“Kehadiran Tambang Batu Milik PT. MIK telah menggannggu kenyamanan kami. Karena, jalan yang dulunya dibangun oleh nenek moyang kami jadi rusak akibat mobil mobil pengangkut Batu milik PT. MIK. Kami menuntut, agar PT. MIK ditutup segera”tegas Enriko Nababan.

Menurut Enriko Nababan, Selain merusak jalan keberadaan Tambang Batu milik PT. MIK juga telah mencemari lingkungan warga Desa Sipultak. Akibat jalan yang rusak telah mengakibatkan pengepulan debu. Sehingga, udara yang mereka hirup telah bercampur debu. Terlebih pada musim kemarau seperti saat ini. Jalan yang tadinya ber aspal, berubah jadi jalan tanah.

“Untuk itu, kami meminta agar Tambang ini ditutup. Karena, kalau tetap beroperasi. Maka, warga Desa Sipultak akan menderita penyakit pernafasan akibat udara yang kami hirup telah bercampur debu,”tambahnya.

Hal senada diucapkan kepala Desa Lumban Ina Ina, Edward Lumbantoruan. Keberadaan tambang batu Milik PT. MIK telah mengusik kenyamanan warganya. Hal itu terlihat dari laporan warga yang menuntut penutupan tambang batu. Aksi unjuk rasa hari ini merupakan klimaks dari akumulasi kekesalan warga selama ini.

“Aksi unjuk rasa hari ini, merupakan klimaks dari akumulasi kekesalan saya dan warga selama ini. Saya sudah berusaha untuk mencoba meredam emosi warga. Namun, karena sudah sangat kesal. Hari ini menjadi puncaknya. Saya sendiri akhirnya ikut mendampingi warga saya dalam aksi hari ini,”jelas Edward Lumbantoruan.

Menurut Edward, pihak PT. MIK sekalu pemilik tambang, harus segera merespon tuntutan warga. Karena, warga akan mendatangkan massa yang lebih banyak jika tuntukan mereka tidak dipenuhi. Kekesalan warga bukan saja karena jalan yang rusak. Namun, juga karena, udara yang sudah tercemar di Desa Sipultak.

Ditambah lagi kata Edward, Jalan Akses keluar masuk ke Tambang tersebut adalah, jalan milik warga. Jalan ini dulunya dibangun Nenek moyang mereka. Namun, untuk kepentingan warga setempat. Bahkan kata Edward, semua lahan yang ada di sekitar tambang batu Adalah, lahan milik moyang mereka.

Lahan yang sekarang ini lanjut Edward mengandung bebatuan yang berkualitas. Sehingga, warga dari dua Desa memanfaatkan lahan itu untuk tambang batu mandiri atau manual. Akibat kehadiran PT. MIK, konsumen mereka jadi berpaling. Akibatnya, mata pencaharian tetap warga yang selama ini dari tambang batu mandiri jadi hilang.

“Tapi juga disebabkan mata pencaharian mereka jadi hilang. Warga saya sebagian besar adalah, penambang mandiri. Akibat kehadiran tambang batu milik PT. MIK ini, tambang mandiri yang mereka kelola jadi tutup. Jadi, hal ini juga menjadi penyebab kekesalan dari warga. Kami berharap, agar Pemerintah dan aparat terkait turun tangan. Saya khawatir warga akan berrindak anarkis, jika tidak segera diatasi,”tandas Edward Lumbantoruan.

Terkait aksi unjuk rasa warga Desa Sipultak ini, ketika PARAMETERTODAYS mencoba mengonfirmasi ke Pihak PT. MIK, Jumat (11/6). Namun, belum ada tanggapan. Selama aksi  unjuk rasa berlangsung damai di dekat lokasi tambang batu, tidak mengakibatkan kegiatan di tambang terganggu. Tambang tetap beraktivitas seperti biasa. Usai melakukan aksi unjuk rasa, ratusan warga Sipultak kembali ke rumah masing masing. (Panahatan Purba)